Nabi Muhammad, Pelita Yang Bercahaya

  #SeriTadabburAyat – 42

Ketika Allah menyifati bulan, Dia berfirman:

⭐ { وَقَمَرًا مُّنِيرًا }

“Dan bulan yang bercahaya (muniiran)”

(QS Al Furqān [25]: 61)

 

Ketika Allah menyifati matahari, Dia berfirman:

⭐ { وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا }

“Dan menjadikan matahari sebagai pelita (siraajan)”

(QS Nūh [71]: 16)

Adapun ketika berkenaan pada Nabi kita, Muhammad ﷺ, Dia berfirman:

⭐ { وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا }

“Dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izinNya dan sebagai cahaya yang menerangi (siraajan muniiran)”

(QS Al Ahzāb [33]: 46)

Penggabungan 2 sifat ini pada diri Rasulullah ﷺ memiliki beberapa hikmah:

1) Menyempurnakan keindahan (identik dengan bulan) dengan keagungan (identik dengan matahari) pada diri Nabi.

2) “Rahmat bagi seluruh alam” (rahmatan lil ‘aalamiin) yang dibawa oleh Nabi berupa Islam akan terus “memberikan cahaya” di sepanjang waktu ibarat silih bergantinya sinar matahari (siraajan) di waktu siang dan cahaya rembulan (muniiran) di waktu malam.

🌷 Allaahumma shallii wa sallim ‘alaa nabiyyinaa Muhammad

Rawaa’i Al Qur’an
(dengan beberapa penyuntingan & penambahan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *