Tadabbur: Sebuah Kewajiban Ummat (1/3)

#NasehatQurani – 5

Oleh: Syaikh Dr. Nashir bin Sulaiman Al Umar – hafizhahullāh


▶ Dalil-Dalil Kewajiban Tadabbur

Allah ta’āla mengajak hamba-hambaNya untuk merenungkan (tadabbur) ayat-ayat yang Dia turunkan dalam kitabNya dengan beberapa cara. Di antaranya dengan menjelaskan bahwa tadabbur merupakan maksud dan tujuan diturunkannya Al Qur’an, melalui firmanNya:

{ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺃَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ ﻟِﻴَﺪَّﺑَّﺮُﻭﺍ ﺁَﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟِﻴَﺘَﺬَﻛَّﺮَ ﺃُﻭﻟُﻮ ﺍﻟْﺄَﻟْﺒَﺎﺏِ } [ ﺹ : 29 ‏]

“Inilah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah agar mereka memperhatikan (mentadabburi) ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai akal mendapat pelajaran.”

(QS Shād: 29)

Dan dengan mengingkari perilaku orang-orang yang meninggalkan tadabbur, sebagaimana dalam firmanNya:

{ ﺃَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺪَّﺑَّﺮُﻭﺍ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝَ ﺃَﻡْ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢْ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺕِ ﺁَﺑَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﺄَﻭَّﻟِﻴﻦَ } ‏[ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ : 68 ‏]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan  (mentadabburi) perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?”

(QS Al Mu’minūn: 68)

Serta dengan mewajibkan tadabbur sebagaimana dikatakan Imam Asy Syaukani [1] berdasarkan firman Allah:

ﺃَﻓَﻠَﺎ ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁَﻥَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ } ‏[ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 82 ‏] ،

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau seandainya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

(QS An Nisā’: 82)

Dan firmanNya:

ﻭﻗﻮﻟﻪ : { ﺃَﻓَﻼَ ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﺃَﻡْ ﻋﻠﻰ ﻗُﻠُﻮﺏٍ ﺃَﻗْﻔَﺎﻟُﻬَﺎ } ‏[ ﻣﺤﻤﺪ : 24 ‏]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

(QS Muhammad: 24)

Jika uraian di atas menunjukkan pentingnya tadabbur dari sisi syariat, maka akal juga menunjukkan hal tersebut. Sebab, di antara konsekuensi Allah memilih manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana firmanNya kepada para malaikat:

{ ﺇِﻧِّﻲ ﺟَﺎﻋِﻞٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺧَﻠِﻴﻔَﺔً } ‏[ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 30 ‏]

“Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi”

(QS Al Baqarah: 30)

adalah Allah menjelaskan kepada mereka manhaj yang jelas sebagai pedoman dalam menunaikan tugas kekhilafahan dengan benar sesuai kehendak Allah. Hal ini telah terlaksana dengan diturunkannya wahyu kepada para nabiNya sepanjang zaman.

Namun, ketika tugas kekhilafahan beralih pada ummat terakhir ini dan menurunkan kitab terakhir yang tidak ada lagi kitab setelahnya, maka secara otomatis kitab tersebut mencakup manhaj merealisasikan khilafah. Agar umat mengenali detail-detail manhaj tersebut, maka ayat-ayat dalam kitab tersebut harus ditadabburi.

Yang dimaksud dengan tadabbur adalah sebagaimana penjelasan Syaikh As Sa’di rahimahullāh

‏( ﺍﻟﺘﺄﻣﻞ ﻓﻲ ﻣﻌﺎﻧﻴﻪ، ﻭﺗﺤﺪﻳﻖ ﺍﻟﻔﻜﺮ ﻓﻴﻪ، ﻭﻓﻲ ﻣﺒﺎﺩﺋﻪ ﻭﻋﻮﺍﻗﺒﻪ، ﻭﻟﻮﺍﺯﻡ ﺫﻟﻚ ‏)‏( 2 ‏)

“Merenungkan makna-maknanya, merealisasikan pemikiran, prinsip-prinsip dan berbagai konsekuensinya yang muncul” [2],

maksudnya mengamalkan konsekuensinya dengan amal & ittiba’.

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *