Tadabbur: Sebuah Kewajiban Ummat (2/3)

📌 #NasehatTentangQuran – 5

📝 ﺗﺪﺑﺮ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﺍﻷﻣﺔ

👤 الشيخ د. ﻧﺎﺻﺮ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺍﻟﻌﻤﺮ – حفظه الله –

📝 TADABBUR, SEBUAH KEWAJIBAN UMMAT
👤 Syaikh Dr. Nashir bin Sulaiman Al Umar – hafizhahullāh

▶ Realita Ummat Dewasa Ini

✅ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺘﺄﻣﻞ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻊ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻻ ﺗﺨﻄﺊ ﻋﻴﻨﻪ ﻣﺎ ﻳُﺮﻯ ﻣﻦ ﺇﻗﺒﺎﻝ ﺃﻋﺪﺍﺩ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻨﻬﻢ؛ ﺭﺟﺎﻻً ﻭﻧﺴﺎﺀً، ﺻﻐﺎﺭﺍً ﻭﻛﺒﺎﺭﺍً، ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺑﺎﻟﺘﻼﻭﺓ ﻭﺍﻟﺤﻔﻆ؛ ﻓﺠﻤﻌﻴﺎﺕ ﺍﻟﺘﺤﻔﻴﻆ ﻣﻨﺘﺸﺮﺓ ﻓﻲ ﻃﻮﻝ ﺍﻟﺒﻼﺩ ﻭﻋﺮﺿﻬﺎ، ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺗﻤﺘﻠﺊ ﺑﺤﻠﻖ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ﻭﺍﻟﺘﺤﻔﻴﻆ، ﻭﺩﻭﺭﺍﺕ ﺍﻟﺘﺤﻔﻴﻆ ﺗﺨﺮﺝ ﻛﻞ ﻋﺎﻡ ﺍﻟﻌﺸﺮﺍﺕ ﻭﺍﻟﻤﺌﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ، ﺣﺘﻰ ﻗﻴﻞ ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ ﻟﺤﻔﻆ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ .

✅ Siapapun yang memperhatikan keadaan kaum Muslimin hari ini, akan menyaksikan perhatian besar mereka terhadap Al Qur’an. Hal tersebut dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat baik laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua melalui membaca (tilawah) dan menghafal. Lembaga-lembaga penghafal Al Qur’an (tahfizh) tersebar di seluruh penjuru negeri. Masjid-masjid penuh dengan halaqah tilawah dan tahfizh. Demikian pula daurah-daurah tahfizh yang diselenggarakan setiap tahunnya mencetak puluhan sampai ratusan huffazh. Bahkan ada yang mengatakan bahwa abad ini merupakan abad keemasan menghafal Al Qur’an.

✅ ﻭﻫﺬﺍ ﺑﻜﻞ ﺗﺄﻛﻴﺪ ﻣﻤﺎ ﻳﺜﻠﺞ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ، ﻷﻧﻪ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺣﺮﺹ ﺍﻷﻣﺔ ﺑﻤﺠﻤﻮﻋﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺭﺑﻬﺎ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻭﺣﺮﺻﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﻋﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺘﺎﻟﻴﻦ ﻟﻜﺘﺎﺑﻪ ﻭﺍﻟﺤﺎﻓﻈﻴﻦ؛ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺆﺳﻒ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻹﻗﺒﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ﻭﺍﻟﺤﻔﻆ ﻻ ﻳﺼﺤﺒﻪ ﺇﻗﺒﺎﻝ ﻳﻤﺎﺛﻠﻪ ﺃﻭ ﻳﻘﺮﺏ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺘﺪﺑﺮ ﻭﺍﻟﻔﻬﻢ، ﺣﺘﻰ ﺻﺮﻧﺎ ﻧﺮﻯ ﻣﻦ ﻳﺘﻢ ﺣﻔﻆ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ، ﻭﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻌﻨﻰ ﻛﻠﻤﺎﺕ ﻣﻦ ﺃﻭﺍﺋﻞ ﺍﻟﺴﻮﺭ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺤﻔﻈﻬﺎ ﺻﻐﺎﺭ ﺍﻟﻄﻼﺏ .

✅ Semua ini merupakan fenomena yang menggembirakan. Sebab, hal ini menunjukan semangat umat Islam terhadap Kitabullah dan antusiasme mereka untuk memperoleh pahala besar yang dijanjikan Allah bagi hambaNya yang membaca dan menghafal Al Qur’an.
Namun sangat disayangkan, semangat & antusiasme tilawah dan menghafal Al Qur’an ini, tidak diiringi dengan semangat yang sama atau mendekati, dalam mentadabburi dan memahami Al Qur’an. Sehingga kita bisa saksikan ada yang menyempurnakan hafalan Al Qur’an, tapi tidak mengetahui makna dari awal surat yang biasa dihafal oleh individu yang baru belajar.

✅ ﻭﻗﺪ ﺳﺠﻞ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻤﺴﺆﻭﻟﻴﻦ ﻋﻦ ﺣﻠﻘﺎﺕ ﺍﻟﺘﺤﻔﻴﻆ ﻣﻼﺣﻈﺎﺕ ﻋﺪﻳﺪﺓ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺠﺎﻝ، ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻇﻬﺮ ﻟﻲ ﻋﺪﻡ ﺗﺪﺑﺮ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ، ﻣﻦ ﺧﻼﻝ ﻋﺪﻡ ﻣﺮﺍﻋﺎﺗﻬﻢ ﻟﻠﻮﻗﻒ ﻭﺍﻻﺑﺘﺪﺍﺀ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺗﺴﻤﻴﻌﻲ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻘﺎﺕ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻻﺧﺘﺒﺎﺭﺍﺕ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﺑﻘﺎﺕ، ﻓﻴﻘﻒ – ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ – ﻭﻗﻔﺎً ﻋﺠﻴﺒﺎً، ﻭﻳﺒﺘﺪﺉ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀً ﻏﺮﻳﺒﺎً , ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﺪﺑﺮ ﻭﺍﻟﺘﺄﻣﻞ ‏) ‏( 3 ‏) .

✅ Salah satu penanggungjawab halaqah tahfizh mencatat beberapa fenomena ini. Seperti yang beliau ungkapkan,

“Tampaknya kebanyakan pelajar tidak mentadabburi Al Qur’an. Hal itu terlihat saat mereka tidak memperhatikan waqf (berhenti) & ibtida’ (mengawali saat membaca). Ini saya temui saat menyimak bacaan mereka di halaqah dan mendengar mereka di ujian dan perlombaan. Ada yang waqf dengan cara yang mengherankan dan ibtida’ dengan cara aneh. Ini menunjukkan mereka tidak tadabbur dan memperhatikan bacaan dengan baik.” [3]

✅ ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻟﻠﺤﺎﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻓﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﻭَﺭَﺗِّﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁَﻥَ ﺗَﺮْﺗِﻴﻠًﺎ { ‏[ ﺍﻟﻤﺰﻣﻞ : 4 ‏] ﺃﻱ ﺑﺘﻤﻬﻞ ﻭﺗﺮﺳﻞ، ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ : ‏( ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻮﻧﺎً ﻋﻠﻰ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺗﺪﺑﺮﻩ ‏)‏( 4 ‏) ، ﻓﺠﻌﻞ ﺍﻟﻔﻬﻢ ﻭﺍﻟﺘﺪﺑﺮ ﻋﻠﺔ ﻟﻸﻣﺮ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ ﻣﺮﺗﻼً، ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻮﻛﺎﻧﻲ : ‏( ﺃﻱ : ﺍﻗﺮﺃﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻬﻞ ﻣﻊ ﺗﺪﺑﺮ ‏) ‏( 5 ‏) ، ﻓﺠﻌﻞ ﺍﻟﺘﺪﺑﺮ ﺩﺍﺧﻼً ﻓﻲ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺘﺮﺗﻴﻞ .

✅ Realita ini bertentangan dengan perintah Allah untuk membaca Al Qur’an dengan tartil. Karena Allah berfirman,

“Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.”

(QS Al Muzzammil: 4)

yakni dengan perlahan-lahan dan tenang.

Imam Ibnu Katsir berkata,

“Hal itu lebih membantu untuk memahami dan mentadabburi Al Qur’an” [4]

Allah menjadikan pemahaman dan tadabbur sebagai sebab diperintahkannya membaca Al Qur’an dengan tartil. Imam Asy Syaukani berkata,

“Bacalah dengan pelan disertai tadabbur” [5] Beliau menjadikan tadabbur termasuk dalam pengertian tartil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *